Thursday, 5 May 2016

Melaut Ame-Lautan

Tema saya!

Sesungguhnya di tengah cobaan hari libur nan banyak, gue baru keinget belom nulis blog. Kagak ciamiklah jikalau tema gue, eala gue telat nulis *kibasjilbab*

Tema kali ini ada sedikit keterkaitan dengan sejarah pendirian blog gue ini. Seperti yang banyak dipertanyakan, nama blog gue tuh aneh nan rancu. Jadi biar pada clear gue jelaskan bahwa cara baca nama blog gue adalah "ame-lautan" bukan "amel-autan" ataupun "amela-utan". Dulu ceritanya gue suka banget parah sama laut dan akan mendedikasikan blog ini buat menulis hal-hal tentang laut. Tapi apa daya tangan tak sampai. Sekarang isinya gado-gado. Yasudahlah.

Kembali lagi ke tema " favorite first experience", tentulah gue akan memilih *drumroll* pengalaman pertama kali melaut. Karena pengalaman ini membawa gue ke sebuah dunia baru yang tidak banyak orang bisa rasakan *kibasjilbablagi*. Karena pertama kali melaut gue berhubungan dengan apa, siapa, dan mengapa. Bingung kan lo? Gue juga lagi mikir apa yang mau gue omongin sik.

Melaut pertama gue itu adalah saat 2005, jaman liburan menunggu pengumuman SPMB. Sebagai anak SMA nan culun, gue diajak sepupu gue yang udah certified diver buat melaut bareng temen-temennya. Karena dia juga tau gue suka banget sama laut. Singkar kata ikutlah gue melaut ke pulau Pramuka, salah satu gugus pulau di Kepulauan Seribu yang dapat ditempuh dengan 3 jam pake kapal. I love sea so very much. Karena belom certified diver dan emang baru pertama kali main di laut, gue diajarin sepupu gue basic lessons of snorkling antara lain masker cleaning, snorkel blasting dab duck dive. Ampe sekarang gue masih pede gape lah buat jelasin 3 teori tadi. Itu tentang apa.

Sekarang tentang siapa. Nah, menurut gue sebenernya ini plus-plus sih. Gue mengenal temen-temen sepupu gue yang baik-baik banget ngajarin si anak SMA ini buat main di laut. Ceritanya ada salah dua kakak-kakak ini menarik hati dan mata. Satu sempet jadi gebetan abadi selama di kampus, satunya...ceritanya lebih menyedihkan. Ya sudah lah kita move on saja. Hahahaha. Tapi apapun yang terjadi atau terkait siapapun, gue tetep cinta laut.

Terakhir, tentang mengapa. Inilah salah satu yang jadi alasan gue bela-belain ambil sertifikasi selam, karena gue cinta banget sama laut, berharap pengen bisa sering-sering melaut. Tahun ketiga kuliah, dimana gue lagi semangat-semangatnya diving, gue sempat kepikiran mau serius ambil lisence dan jadi instruktur diving. Tapi kemudian impian buyar saat emak teriak-teriak di telepon nyuruh gue cepet lulus. Yasudahlah ya.

Sekian ceritera gue. Intisarinya adalah kejadian melaut gue dulu menjadi gerbang gue kepada pengalaman macem-macem dengan dunia dimana napas itu bayar. Dunia yang mengingatkan gue bahwa I could die in anysecond. Mungkin sekarang gue butuh dicelupin ke laut lagi.

3 comments:

haruadi setiawan said...

Dan dijodohin pak menteri pas makan di pinggir laut

haruadi setiawan said...

Dan dijodohin pak menteri pas makan di pinggir laut

Jessie said...

Dan tidur di poppies yang pinggir laut hahahaaaa